Senin, 19 Januari 2009

Ahmadinejad….Hamba Allah Yang Luar Biasa

Televisi Fox Amerika pernah bertanya pada Presiden Iran Ahmadinejad : ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab, ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.

Itulah kalimat pembuka penyiar TV memperkenalkan seorang Ahmadinejad. Ahmadinejad, Presiden Iran yang mencengangkan banyak orang ketika menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah. Mantan walikota Teheran itu menutup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan sederhana dan mengisi dengan kursi kayu. Sekali lagi fakta yang mengesankan…!

Dalam beberapa kesempatan Presiden juga bergabung dengan petugas kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden. Dibawah kepemimpinan Ahmadinejad, setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak jika masa tugasa berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan kewibawaan . Caranya adalah agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan sepeser pun dari jabatannya.

Ahmadijed juga mengumumkan bahwa kemewahan terbesar dirinya adalah mobil Peogeot 504 buatan tahun 1977dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahun lalu yang terletak di salah satu daerah miskin di Teheran. Rekening tabungannya nol dan penghasilan yang diterima hanyalah gaji sebagai dosen sebesar kurang dari Rp 2.500.000,-. (U$ 250)

Asal tahu saja Presiden tetap tinggal di rumahnya. Satu-satunya rumah miliknya, salah satu presiden Negara terpenting di dunia secara strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya. Ahmadinejad bahkan tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupakan haknya). Alasannya seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya.

Hal lain yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap dengan nikmat makanan buatan isteri tersebut Di sisi lain ia menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden. Ahmadinejad juga mengalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presien juga memilih terbang dengan pesawat biasa di kelas ekonomi.

Ahmadinejad selalu melakukan rapat dengan para menteri kabinetnya untuk memantau semua aktivitas. Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin.Ia juga menghapus semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika jika mengunjungi Negara lain.

Jikalau harus menginap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat tidur tetapi tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut. Apakah semua tindakan dan kelakuan presiden menimbulkan rasa tidak hormat

Dikutip dari: http://ngengeh.wordpress.com/2008/08/19/ahmadinejad-di-cermin-ingatlah-anda-tidak-lebih-dari-pelayan-kecil



Sabtu, 25 Oktober 2008

Guru Tangguh Itu



Kisah ini sungguh mengharukan, membacanya pertamakali dalam milis Forum Lingkar Pena hati saya bergetar, aku jadi ingat dengan perjuangan seorang guruku waktu sekolah di MAN Pekanbaru dulu, Bapak Mahyudin namanya, dan saat ini sudah almarhum. PakMahyudin adalah guru Fisika yang kesehatannya selalu buruk namun tidak sekalipun beliau terlambat untuk mengajar apalagi sampai tidak hadir. Semoga jasamu dibalas guruku...dan untuk semua guru yang ada di dunia ini. Amien
***********************************************************************************

Beliau kini sedang berjuang melawan stroke...


Seorang dokter memvonis harapan hidupnya tinggal 10%. Ngeri saya mendengar kabar itu. Namun, mukjizat datang. Tuhan ternyata masih sayang. Entahlah. Mungkin karena ada kobaran semangat dan perjuangan yang menggelora sehingga beliau masih hidup hingga kini. Bahkan, setelah menjalani terapi pengobatan alternatif, kini beliau sudah
mulai bisa berjalan. Ingatannya yang dulu hilang sama sekali kini sudah mulai pulih. Bahkan sudah bisa berbicara dengan lancar. Sungguh ini sebuah keajaiban. Saya salut dengan semangatnya.

Guru itu, Pak Hamzah namanya.

Syukur kepada Allah, lebaran ini saya berkesempatan bersilaturahmi ke rumahnya yang sejuk, Kampung Sawangan, Magelang. Saya senang karena beliau tak lupa. Meski sudah cukup lama saya tak bertemu. Saya sendiri sekira 12 tahun yang lalu pernah menjadi muridnya di SMP N 1 Sawangan. Saya bangga mempunyai guru yang punya semangat smacam itu.

Yang membuat saya girang lagi, beliau ingin belajar menjadi penulis. Wah, tambah semangat saya mendengarkan kisahnya. Niat itu diutarakannya dengan mata berkaca-kaca. .. Beliau sadar barangkali sudah tidak bisa berkiprah optimal lagi dalam dunia pendidikan dengan kondisi fisik yang dialaminya sekarang ini. Dengan fisik yang lemah. Soal karir pendidikan, jabatan terakhirnya menjadi Kepala Sekolah SMP 19 Purworejo, dulunya dikenal dengan SMP Mbener. Beliau mengatakan rela kalau harus pensiun dini mengingat kondisinya yang belum memungkinkan pulih. Walaupun begitu, masih punya keinginan untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman seputar pendidikan yang telah dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Salah satunya dengan media tulisan seperti yang impikannya.

Pak Hamzah sendiri memang guru tangguh...

Lahir dari keluarga sederhana dan (mohon maaf) sebelah kakinya kurang sempurna, jadi kalau berjalan harus berjinjit-jinjit. Namun, tetap percaya diri, tak mau kalah dengan teman-teman sebayanya. Baik itu soal karir yang akhirnya mengantarkannya menjadi seorang guru, maupun soal cinta yang akhirnya bisa mempersunting perempuan normal cantik dan lembut, seorang guru juga bernama Ibu Purwanti.

Saya masih ingat, saat jadi muridnya dulu, saya sering melihat beliau tetap lincah ketika bermain bola voli. Begitu juga aktif menjadi pembina Pramuka dimana ekskul tersebut mensyaratkan menjadi orang yang gesit, trampil dan lincah, apalagi ketika sedang mengadakan sebuah acara perkemahan dengan full acara. Beliau setia membersamai saya dan teman-teman yang dulu aktif disana waktu itu.

Semangat itu tak surut. Sejak mendapat tugas jadi Kepala Sekolah, beliau harus bolak balik tiap hari dari rumahnya di Magelang ke sekolahnya di Purworejo. Tentu untuk mengemban amanahnya sebagai pendidik. Disana capaian keberhasilan pelan-pelan didapatkan. Mulai dari prestasi akademik siswa yang meningkat, begitu juga sering
menjuarai perlombaan, sarana prasarana seperti peralatan computer mulai tersedia sampai memperjuangkan peningkatan pangkat karir seorang guru yang 9 tahun tak naik-naik. Begitulah perjuangan panjang yang sebenarnya masih terlalu minim ruang ini untuk menceritakannya.

Hingga pada sebuah kesempatan, beliau berkesempatan menghadiri acara pelatihan Sekolah Standar Nasional / Internasional di Bogor. Disana pemikiran pen idikannya rupanya terkuras, sayang kondisi fisiknya tak memungkinkan, terlalu capek. Hingga, stroke pun menyerangnya. Hingga saat ini.

Saya, sebagai muridnya tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bias menceritakan kisah ini kepada Anda semua. Setelahnya, alangkah bahagia bila ada kirimkan sepatah dua patah kata, komentar, atau tanggapan atas tulisan singkat karena secepatnya akan saya kirimkan kepada beliau. Agar beliau terhibur setelah membacanya, bisa sedikit membuatnya tersenyum hingga berharap agar kondisinya lekas kembali pulih seperti semula. Amien. Tetap tegar Pak !. (Yon's Revolta kolumnis@gmail.com)

Jumat, 04 Juli 2008

Imam Dunia Nan Bersahaja



Ayatullah Imam Khomeini

Sejak wafatnya Ayatullah Borujerdi di Qom dan Ayatullah Mohen al-Hakim di Najaf, Ayatullah Abul-Qasim Khoi adalah marja’ terbasar di Najaf sementara Ayatullah al-‘Uzhma Imam Ruhullah Khomeini adalah salah seorang marja’ taqlid terbesar di Qom.
Dengan posisi keagamaan yang amat penting itu, Khomeini mengelola hawzah sebagai sentra perlawanan terhadap tirani Shah Pahlevi yang telah berumur lebih daripada 2000 tahun. Ia telah mencetak ribuan ulama intelektual dan pejuang yang kelak setelah kememangan Revolusi Islam, menjadi pilar-pilar sistem Republik Islam Iran.

Salah satu rising star hawzah ilmiah Qom produk Imam Khomeini adalah Ayatullah Mirza Ali Mesykini. Ia terlahir dengan nama Ali Akbar Faidh, dari keluarga ulama pada 1300 H di Mesykin, kota di baratdaya Iran. Ia diberkati usia panjang, 86 tahun, yang dihabiskan dalam aktivitas perjuangan demi terwujudnya Revolusi Islam Iran dan aktivitas keilmuan di hauzah-hauzah ilmiah.

Ia mempelajari ilmu-ilmu Islam tingkat dasar dari ayahnya. Menyusul kepergian sang ayah, beliau melanjutkan studinya di Ardabil demi menekuni gramatika dan struktur bahasa Arab (nahwu dan sharf). Setelah itu, beliau memaksimalkan studinya secara intensif di kota “sejuta ulama”, Qum.

Pada masa itu, rezim Syah Pahlvevi menebar aparatnya ke seluruh titik kota dan menutup banyak hauzah. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Ayatullah Mesykini berhasil menyelesaikan studinya pada tingkat “Sathh” (intermediate), dan pada saat yang sama, giat mengikuti kuliah-kuliah level tinggi dalam bidang fikih Islam (dars kharij) dari para guru besar terkemuka pada zaman tersebut.

Ia juga terus aktif mengajar dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan lewat kuliah-kuliahnya dari level “muqadimah”, “sath”, hingga level atas. Keberkatan ilmunya menjadi nyata dengan lahirnya ulama-ulama yang kompeten dalam berbagai bidang keagaamaan.

Setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979, rekan diskusi Ayatullah Ibrahim Amini dan Ayatullah Abdullah Jawadi Amuli ini dipercaya untuk memegang berbagai tugas super penting, antara lain, Anggota Majles-e Khobregan; Anggota Komisi Penyeleksi para hakim ; Ketua Majles-e Khobregan ; dan Imam serta Khatib Jumat di kota suci Qum.
Ketika Imam Khomeini wafat, sebagian opini menunjuk namanya sebagai calon Pemimpin tertinggi, karena senioritas, spiritualitas, dan intelektualitasnya yang tidak diragukan. Namun kerendahan hati telah membuatnya menampik suara-suara dukungan itu. Demi menghilangkan kontroversi seputar figur pengganti Imam Khomeini, ia mengutus menantunya, Reysyahri, untuk menyampaikan dukungannya kepada Ayatullah Ali Khamenei sebagai pengganti Imam Khomeini, meski usianya lebih muda daripada dirinya. Mesykini bahkan memohon izin untuk menggunakan hak kemarjaannya kepada Ali Khamenei, meski hal itu kurang lazim dalam tradisi hawzah ilmiah.

Sejak Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, sejumlah anggota utama Dewan Ahli diganti dengan mujtahid-mujtahid muda karena menyatakan diri sebagai marja taqlid, seperti Ayatullah Luthfullah Shafi Golpaigani, Ayatullah Makarim Syirazi , Ayatullah Yusuf Shanei, dan Ayatullah Musawi Ardebili. Meski demikian, Mesykini yang sudah sangat tua dan dianggap paling layak untuk beristirahat dan menjadi marja’ taqlid, bergeming dari tugasnya demi komitmen dan rasa tanggung jawab yang amat dipeliharanya.

Karya-karya yang mengabadikan namanya, di antaranya adalah: Isthilahat Ushul Fiqh Islam; al-Manafi al-Ammah; Miftah al-Jinan (doa tambahan untuk kitab Misbah al-Munir); al-Mawa’id ‘Adadiyah; al-Hadi ila Maudhuat Nahjul Balaghah; al-Mabshut (tafsir surah Ali Imran); Tahrih al-Mawaidh; Tahrir al-Ma’alim; dan Rasail al-Jadidah.
Pada Senin, 15 Rajab 1428 H (30 Juli 2007), di sebuah rumah sakit di Tehran, ruh faqih dan ulama besar murah senyum ini melayang ke haribaan Kekasihnya nan Abadi. Innna lillah wa inna ilaihi rajiun.

(www.adilnews.com)
This entry was posted on September 6, 2007 at 6:34 am and is filed under Sosok .

Design by Amanda @ Blogger Buster